News Ticker

Latest Posts
Browsing Category "JR SARAGIH"

JR Saragih: Membangun Ala 'Anak Terminal'

- Jumat, 06 Februari 2015 No Comments

JR Saragih: Membangun Ala 'Anak Terminal'

Dari pecat anak buah, sampai bangun rumah sakit.
Pernah bertugas di Korps Polisi Militer membuat gaya kepemimpinan JR keras dan disiplin.
Senin, 19 Desember 2011 menjadi hari tak terlupakan bagi 109 pejabat eselon III dan IV di jajaran Pemerintah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. "Hanya" gara-gara tak ikut upacara Hari Kesadaran Nasional, mereka kehilangan pekerjaan, alias dicopot dari jabatan masing-masing.
Bupati Simalungun Jopinus Ramli (JR) Saragih marah besar hari itu, lantaran anak buahnya tak disiplin. Dia bekas militer, tentu gerah melihat disiplin pegawai negeri sipil (PNS) yang rendah. "Padahal itu adalah hari kesadaran nasional. Seharusnya mereka terlebih dahulu harus menyadarkan dirinya," kata bupati yang biasa disapa JR ini dalam perbincangan dengan VIVAnews, Rabu 24 Oktober 2012. Pria kelahiran 10 November 1968 itu masih belum bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
Tak hanya 109 PNS saja yang jadi sasaran disiplin sang Bupati. Dua hari sebelumnya, 17 Desember 2011, JR juga mencopot Kepala Dinas Kesehatan Simalungun, Saberina Tarigan. Simalungun sempat geger dengan berbagai pencopotan ini. JR beralasan, Kadinkes tak datang saat dia panggil rapat karena sedang berada di Medan. "Pejabat eselon II itu tidak boleh meninggalkan daerahnya tanpa sepengetahuan bupati."
Tanpa tedeng aling, JR pun pernah mencopot Kepala RSUD Raya gara-gara keluhan masyarakat. "Saya pun sidak pagi-pagi, rumah sakit tidak terurus, atap-atap bocor dibiarkan. Seharusnya rumah sakit itu bersih," kata dia seraya menambahkan bahwa dirinya sangat peduli pada kesehatan.
Tapi, amarah JR kepada 109 PNS yang bolos upacara tak lama. Berselang sehari, dia memanggil kembali anak buahnya itu bekerja. Sebagai hadiah Lebaran. "Sekaligus peringatan kepada para pejabat agar memberikan contoh yang baik. Dan kalau itu berulang lagi, pencopotan jabatan pasti akan mereka terima."
Tak heran jika gaya kepemimpinan JR keras dan disiplin. Dia pernah bertugas di Korps Polisi Militer, komandan sub Detasemen Polisi Militer, komandan Detasemen Polisi Militer. Bahkan, dia pernah bergabung sebagai salah satu personel pengamanan presiden.
Selain dunia militer, masa kecil suami Erunita Tarigan Girsang ini pun turut membentuk karakter JR yang tangguh dan keras.  Tak seperti bocah kebanyakan, dia harus berjibaku untuk membiayai sekolahnya sendiri.
Ayahnya, R Saragih, meninggal saat dia baru berusia satu tahun. Sang Ibu lalu menitipkan JR di rumah nenek di Desa Hapoltakan Pematang Raya karena perekonomian yang morat marit. Sejak SD, JR membantu neneknya memetik kopi di ladang. Tapi, duka kembali menggelayut. Sang Nenek juga meninggal. JR kembali ke rumah ibunya, N boru Sembiring Meliala, di Tanah Karo.
Karena ekonomi tak memungkinkan, JR terpaksa berhenti sekolah saat duduk di kelas 6. Tak mau lama-lama dirundung sedih, JR memutuskan merantau ke Pematang Siantar. Di sana JR melakoni pekerjaan apapun untuk mendapat uang.
Dia menjadi tukang semir sepatu di terminal, dan juga tukang bersih-bersih bus antar kota. Dua tahun JR harus membanting tulang dengan pekerjaannya itu.
Dia kembali ke bangku sekolah setelah seorang supir menyarankannya sekolah.

Dia berhasil menyelesaikan sekolahnya hingga SMP sambil bekerja memperbaiki alat-alat elektronik dan beternak ayam. Sampai di situ, penderitaan rupanya belum mau melepas JR.
Dia kesulitan membayar uang sekolah untuk melanjut ke SMA. JR kembali merantau. Kali ini, tujuan rantauannya jauh dari kampung halaman, Jakarta. Di Ibukota, JR bekerja sebagai penggali pasir. Dari uang itu, dia bisa mendaftar ke SMA swasta Iklas Prasasti di Kemayoran. Saat bersekolah di SMA ini lah hidup JR menemui titik balik.
Sambil bersekolah, JR mendapat tawaran bekerja paruh waktu di pusat Primer Koperasi Mabes TNI AD di Jakarta. Keuletan dan kegigihan JR mencari uang untuk sekolah mendapat simpatik dari petinggi angkatan TNI AD. JR pun diberikan kesempatan mengikuti tes masuk Akademi Militer, dan berhasil.
Minder lihat baju dinas
Di luar disiplin ala militernya dalam memimpin Simalungun, ada satu kebiasaan JR yang sudah diketahui warga. Dia kerap blusukan ke daerah-daerah dengan sepeda motor trail miliknya, tanpa pengawalan. Mengenakan baju kaus biasa, JR juga sering terlihat nongkrong di warung-warung kopi.

"JR itu sosok nyentrik. Dia sering ke warung kopi untuk membaur dengan warga," kata Enrico, penggiat lembaga swadaya masyarakat (LSM) Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia. Sekilas, kata dia, perjalanan dengan motor ke kampung-kampung itu terlihat seperti pencitraan. "Tapi, tidak. Dia memang begitu. Langsung turun untuk bertanya kebutuhan warganya itu apa," imbuhnya.
Saat ditanya soal kebiasaannya itu, JR punya alasan sendiri. Sebelum dirinya menjabat sebagai bupati, menurut JR, jalanan di Simalungun sudah kacau, terutama di pedalaman. Masih banyak yang belum diaspal. "Ada yang sampai tak bisa dilalui. Itulah kenapa saya lebih senang pakai motor trail. Kalau pakai mobil nanti susah sendiri karena sebagian jalanan di dalam tidak bisa dilalui mobil," kata JR.
Soal kaus olahraga saat kunjungan kerja? "Kalau pakai dinas saya terlalu kaku. Dari pengalaman, masyarakat merasa minder melihat baju dinas pejabat yang hadir di kampungnya," kata JR. Seolah-olah, imbuhnya, pejabat itu orang hebat.
Padahal, dia datang justru mau jadi tempat curhat warga. Dengan kaus biasa, tak hanya warga, staf pun tak canggung lagi. "Inilah yang saya inginkan. Jadi mereka bisa lebih terbuka dan merasa bersahabat dengan saya. Tentunya kerjasama lebih berguna." Warga pun lebih berani mengajaknya duduk di warung kopi jika tak mengenakan baju dinas.
Mengenai prioritas pembenahan, JR punya dua hal: kesehatan dan pendidikan. Dua bidang ini, menurut JR, adalah hal paling penting dalam kehidupan. "Sekolah tinggi kalau tak sehat juga susah. Begitu juga sebaliknya. Nah, keduanya ini harus menjadi nomor 1 di Simalungun," kata dia.
Beberapa sekolah, kata dia, sudah dibangun sehingga menambah tempat bagi generasi muda menimba ilmu. Dia berharap pembangunan pendidikan ini terus berkembang sebab pendidikan adalah salah satu cara memajukan bangsa. Hal ini diakui Enrico. "Basic dia kesehatan. Awalnya, dia punya rumah sakit. Jadi dia lebih dominan kesehatan. Tapi, pendidikan pun jalan, terbukti bertambahnya sekolah di Simalungun," jelas Enrico.
Selanjutnya, prioritas JR adalah infrastruktur. "Perlahan, Kota Raya sudah berkembang menjadi kota baru. Padahal dulu, kota ini seperti kota mati. Meskipun sudah menjadi kabupaten Simalungun," imbuhnya. Indikasi kota mati, kata dia, orang susah cari penginapan, warnet, dan layanan publik lainnya.
Jalanan pun, menurutnya, sudah kian lebar. Investor pun mulai melirik Raya, di luar Siantar untuk berinvestasi. "Landasan pacu pun sudah ada di Raya," kata dia. Penerbangan pertama dari landasan pacu itu terjadi pada 2011 lalu. Tapi, dia akui memang masih kurang investor. "Susi Air sering berkunjung ke sini."
Di sektor pertanian, JR belum bisa berjanji muluk-muluk. Paling tidak, kata dia, Simalungun tidak perlu mengimpor beras dari luar. Simalungun, kata dia, merupakan daerah pertanian sehingga padi pun jadi andalan wilayah yang dia pimpin.
Bupati Simalungun sejak 28 Agustus 2010 itu juga pernah mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena berhasil meningkatkan produksi padi pada 2011 lalu. Penghargaan ini diberikan melalui Menteri Pertanian Siswono MM di Jakarta. Dibandingkan 2009, Simalungun surplus produksi padi sebanyak 134.156 ton pada 2011.

Bupati Simalungun Janjikan Kuliah Gratis untuk Nias Barat

- Sabtu, 01 November 2014 No Comments
SIROMBU, NBC – Sebagai bentuk kepedulian terhadap perkembangan sumber daya manusia di Kabupaten Nias Barat, Pemerintah Kabupaten Simalungun memberikan jaminan bebas biaya kuliah bagi pelajar di Nias Barat yang ingin melanjutkan studi di Universitas Efarina, Kabupaten Simalungun.
Hal ini diungkapkan oleh Bupati Simalungun JR Saragih saat menyampaikan sambutaannya pada acara penutupan acara PRPG di pantai Sirombu Kabupaten Nias Barat tanggal 8 November 2014 yang lalu.
“Pada kesempatan ini, saya menyampaikan bahwa jika ada putra dan putri Nias Barat yang berkeinginan melanjutkan studinya di perguruan tinggi, maka saya janjikan gratis di Universitas Efarina Simalungun untuk Nias Barat sampai sarjana,”ujar JR Saragih.
Namun demikian, Saragih mengatakan, untuk biaya kontrakan rumah dan biaya makan, menjadi tanggungjawab calon mahasiswa. “Yang mampu kita gratiskan hanya biaya perkuliahan sampai selesai sarjana. Dan untuk biaya kontrakan rumah dan biaya makan calon mahasiswa, biarlah menjadi tanggungjawabnya ataupun orangtuanya,” tambahnya.
“Jika ada yang berkeinginan kuliah dan merasa kekurangan biaya dari orangtuanya, maka cukup datang saja ke Simalungun dan tunjukan KTP asal Nias Barat kepada pejabat setempat, dan selanjutnya registrasi dan bisa langsung kuliah,” terangnya.
Sangat Diapresiasi
Pemerintah Kabupaten Nias Barat sangat mengapreasi bantuan pendidikan yang dijanjikan Bupati Simalungun. Bupati Nias Barat melalui Asisten Bidang Kehumasan Kabupaten Nias Barat Simesono Hia mengatakan, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan oleh pelajar di Nias Barat.
“Dukungan pak Bupati Sumalungun untuk perkembangan sumber daya manusia di Kabupaten Nias Barat sangat kita hargai dan apresiasi. Itu adalah sebagai wujudu jiwa sosial seorang Bupati Sumalungun yang turut dirasakan warga Nias Barat. Untuk itu ini harus kita manfaatkan dan jangan kita sia-siakan karena memang Pemkab Nias Barat butuh dukungan seperti ini,”ujar Simesono.
Kata Simesono, Pemkab Nias Barat melalui Dinas Pendidikan akan melakukan sosialisasi terhadap sekolah-sekolah dan orangtua siswa, agar anak-anak usia sekolah yang duduk di kelas 3 SMA/SMK mempersiapkan diri untuk melanjutkan kuliah di Universitas Efarina Simalungun. Bagi yang berkeinginan bisa mengirimkan datanyake Dinas Pendidikan Nias Barat untuk didata dan difasilitasi ke pihak pihak universitas.
“Ini untuk seluruh putra-putri Nias Barat, dan tidak terbatas jumlah yang akan diterima. Namun, tentu nantinya Dinas Pendidikan akan melakukan berupa seleksi terhadap calon mahasiswa asal Nias Barat. Tujuannya adalah tentu kita mengharapkan siswa yang berprestasi,”tambahnya.
Simesono menghimbau, pelajar SMA/SMK Nias Barat mempersiapkan diri melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Universitas Efarina Simalungun, dan juga Simesono mengharapkan dukungan dari orangtua para siswa nantinya yang berkeinginan melanjutkan kuliah namun kekurangan biaya dari orangtua agar memotivasi anaknya untuk melanjutkan studinya. [FIR]
- See more at: http://www.nias-bangkit.com/2014/11/bupati-simalungun-janjikan-kuliah-gratis-untuk-nias-barat/#sthash.gLGcc6a1.dpuf

DR Jopinus Ramli Saragih SH MM, Anak Terminal Menjadi Perwira Militer

- Selasa, 01 Mei 2012 No Comments

DR Jopinus Ramli Saragih SH MM atau lebih dikenal dengan panggilan DR JR Saragih berhasil mengubah jalan hidupnya. Berkat semangat juang tinggi, kerja keras, DR JR yang di masa kecilnya sempat hidup menggelandang, kini ikut bertarung dalam Pilkada Simalungun, untuk mewujudkan janjinya membenahi Simalungun, kampung halamannya.


Dilahirkan pada 10 November 1968, DR JR Saragih sebagai anak kelima, buah cinta pasangan R Saragih dengan N br Sembiring Meliala. Berbeda dengan anak-anak lainnya, DR JR Saragih, tergolong tidak sempat merasakan nikmatnya kasih sayang dari seorang ayah. R Saragih ayahnya, yang berprofesi oditur militer, menghembuskan nafas terakhirnya, saat JR belum genap berusia setahun.

Sepeninggal ayahnya tahun 1969, ibunya memutuskan untuk pindah dari Huta Hapoltakan Sondiraya, ke Kutambaru, Kecamatan Munthe, Kabupaten Karo. Tindakan itu terpaksa diambil N br Sembiring Meliala, semata-mata karena desakan perekonomian keluarga yang morat-marit. JR kecil harus hidup terpisah dengan saudara-saudaranya. Ia tetap tinggal di Huta Hapoltakan bersama ompung (neneknya), sedangkan saudara-saudaranya, bersama sang ibu di Desa Kutambaru.

Sejak usia satu tahun, secara otomatis, JR diasuh dan dibesarkan ompungnya. Di daerah ini pula, JR mengecap pendidikan hingga kelas 4 SD, sembari membantu pekerjaan sebagai pemetik buah kopi, di lahan pertanian mereka, yang kini telah berubah menjadi komplek SKPD Pematangraya. Selain itu, JR juga bertanggung jawab memikul air bersih dari sungai untuk keperluan rumah. “Jujur saja, meski tidak mengenal bapak saya, saya merasa bahagia memiliki ompung menyayangi dan mencitai saya,” kata DR JR, dalam perbincangan wartawan Metro Siantar (grup Sumut Pos).

Kebahagiaan JR semasa kecilnya tidak berlangsung lama. Saat duduk di kelas 4 SD, ompung-nya meninggal dunia, akibat menderita sesuatu penyakit. JR kemudian dibawa ibunya ke Kutambaru untuk pendidikannya. Namun lagi-lagi, kesulitan ekonomi memaksa pendidikan JR harus tertunda, saat ia duduk dikelas 6 SD.

Ketika itu ibunya telah menikah kembali dengan Rasen Ginting. Dari pernikahan itu pula, JR mendapat tiga orang adik. Karena putus sekolah, JR nekat meninggalkan Desa Kutambaru, dan merantau ke Pematangsiantar seorang diri. Di kota Siantar Man ini, ia jadi tukang semir di terminal. Selama 6 bulan tukang semir, JR ‘naik pangkat’ menjadi pembantu kondektur bus untuk menyapu dan membersihkan sebelum berangkat mencari penumpang. Ia terbiasa makan sesekali sehari dan tidur di mobil di terminal. “Pakaian pun hanya satu,” ujarnya mengenang masa lalunya.
Genap dua tahun hidup di terminal, pada suatu malam, JR Saragih bertemu seorang supir bus. Pria itu menyarankan JR kembali ke sekolah, karena kehidupan terminal tidak mempunyai prospek yang baik. Nasehat dari supir bus itu pun dituruti JR. Ia kembali ke Kutambaru, dan menamatkan SD-nya dalam program persamaan, dan melanjutkannya ke SMP Anjangsana hingga tamat. Di sana, JR menggembala kuda dan beternak ayam. Ia juga menerima reparasi televisi dan sepeda motor, keahlian yang didapatnya dari terminal.

Setelah menamatkan SMP, JR kesulitan biaya melanjut ke SMA. Akhirnya, R berangkat ke Jakarta seorang diri. Di ibu kota, ia mendaftar ke SMA Swasta Iklas Prasasti Kemayoran dan bekerja menggali pasir. Dari menggali pasir, ia membiayai sekolahnya.

Beberapa lama menambang pasir, JR mendapat tawaran bekerja paruh waktu di Pusat Primer Koperasi Mabes TNI AD. Tawaran ini, ternyata menjadi titik balik kehidupan JR. Selama bekerja di situ, banyak petinggi TNI AD, simpatik atas kegigihan JR bersekolah.

JR pun diikutsertakan sebagai salah satu peserta test masuk Akmil. Kerja kerasnya berbuah manis, Ia lulus dan menjadi taruna di Akademi Militer. Usai dari Akmil, JR kemudian menjalani karirnya sebagai prajurit TNI AD, pada korps Polisi Militer (POM). Di dunia militer, JR telah menduduki sejumlah jabatan, mulai dari Dansub Denpom, Dandenpom, bahkan menjadi salah seorang personel Pasukan Pengaman Presiden.

Nama lengkap :
DR.Jopinus Ramli SARAGIH, S.H,M.H.
Tempat/ tanggal lahir: medan, 10-11-'68

Pekerjaan:
Bupati Simalungun 2010-2015
Pres. Komisaris RS.EFARINA ETAHAM GRUP..

Istri: dr.ERUNITA BR.TARIGAN GIRSANG, SPKK..
Tempat/tanggal lahir: medan, 19-06-73.
Pekerjaan: dokter sp.kulit dan kelamin.

Anak: Efarina br. Saragih
Tempat/tanggal lahirl: medan, 16-7-03
Pekerjaan: pelajar

Alamat rumah: jln.raya pondok indah no.21, jakarta selatan
Jl. Sutomo Hapoltakan Sondi Raya Simalungun
(http://www.hariansumutpos.com/2010/06/54555/anak-terminal-menjadi-perwira-militer.html) - See more at: http://pesonaborubatak.blogspot.com/2010/12/dr-jopinus-ramli-saragih-sh-mm-anak.html#sthash.zdFnqoMy.dpuf